Aceh Timur – Memasuki musim kemarau tahun ini, warga Aceh Timur menghadapi tantangan yang familiar namun berbeda dari sebelumnya. Sebagian sumur warga yang sempat tercemar pascabanjir bandang akhir 2025 belum sepenuhnya pulih. Bagi mereka, ketersediaan air bersih kini menjadi perhatian yang berkelanjutan – tidak lagi sekadar persoalan musiman, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipastikan sepanjang tahun.
Wahyuni, warga Desa Julok, masih ingat dengan jelas bagaimana enam bulan lalu mereka kehilangan akses terhadap air bersih dalam hitungan hari. “Masalah terbesar yang kami hadapi adalah air bersih. Banyak sumur warga yang tercemar dan airnya tidak bisa digunakan,” ujarnya, mengingat kembali kondisi pascabanjir bandang yang melanda Aceh Timur pada 26 November 2025.
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan yang luas dan berlapis di delapan kecamatan: Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Nurussalam, Birem Bayeun, Peunaron, Idi Tunong, dan Peureulak. Selain merusak infrastruktur dan harta benda, banjir mencemari sumber-sumber air warga yang selama ini menjadi sandaran kebutuhan rumah tangga. Air yang sebelumnya tersedia dari sumur di sekitar rumah menjadi keruh, bercampur lumpur dan limbah, sehingga tidak lagi layak digunakan.
“Kalau rumah yang kotor masih bisa dibersihkan sedikit demi sedikit, tetapi kalau tidak ada air bersih tentu sangat sulit,” tambah Wahyuni.
Selain hilangnya akses terhadap air bersih, warga juga menghadapi padamnya aliran listrik dan terputusnya jaringan telekomunikasi selama berhari-hari. Kondisi tersebut menyulitkan masyarakat untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun memperoleh informasi penanganan bencana. “Listrik juga padam dan sinyal telepon hilang berhari-hari. Kami sulit menghubungi keluarga dan tidak tahu kondisi di daerah lain. Situasinya benar-benar membuat warga resah,” ujar Wahyuni.
Data dari Pos Komando Bencana Aceh Timur mencatat sebanyak 73.531 Kepala Keluarga atau sekitar 265.723 jiwa terdampak langsung. Sebanyak 57 orang meninggal dunia, 845 orang luka-luka, dan 1.815 warga menderita sakit pascabencana. Kerusakan fisik mencakup 5.684 unit rumah rusak berat, 4.422 unit rusak sedang, dan 6.979 unit rusak ringan, sehingga ribuan warga harus mengungsi. Salah satu wilayah terdampak paling parah adalah Desa Lokop, dengan hampir 80 persen wilayah desa hancur akibat material kayu, lumpur, dan bebatuan dari hulu.
Mengembalikan Akses yang Sempat Hilang
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, Medco E&P Malaka bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mendistribusikan 1,13 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak banjir. Empat unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk menjangkau 56 desa di Kecamatan Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Nurussalam, dan Peureulak.
Distribusi yang dimulai sejak 3 Desember 2025 ini berlangsung secara berkelanjutan hingga masa pemulihan pascabencana. Setiap pagi, warga keluar dari rumah membawa jeriken, ember, dan berbagai wadah penampung untuk mendapatkan pasokan air. Bagi mereka, air bersih menjadi kebutuhan paling vital untuk menjalankan aktivitas sehari-hari setelah sumber air warga tercemar.
Selain bantuan air bersih, Medco E&P Malaka juga mengerahkan 12 unit ekskavator, empat unit bulldozer, tiga unit backhoe loader, enam unit grader, dan dua unit dump truck ke wilayah terdampak. Peralatan tersebut digunakan untuk membuka kembali akses jalan yang terputus di 31 desa yang sebelumnya sempat terisolasi. RSUD Sultan Abdul Aziz Peureulak, yang juga terdampak banjir, turut dibersihkan agar pelayanan kesehatan masyarakat dapat kembali berjalan optimal.
Terbukanya kembali akses jalan menjadi titik awal pemulihan kehidupan masyarakat. Aktivitas ekonomi mulai bergerak, distribusi logistik kembali lancar, dan warga dapat menjangkau fasilitas kesehatan maupun pusat pelayanan publik dengan lebih mudah
Kolaborasi dalam Penanganan Bencana
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyampaikan bahwa kontribusi sektor swasta selama masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan bencana membantu mempercepat proses pemulihan daerah terdampak sekaligus meringankan beban masyarakat yang kehilangan akses terhadap berbagai kebutuhan dasar.
Ia menilai dukungan tersebut menjadi contoh kolaborasi yang dibutuhkan antara pemerintah dan dunia usaha dalam penanganan bencana. “Bantuan tersebut membuka kembali jalan-jalan yang terisolasi menjadi simbol harapan bahwa pemulihan dapat dilakukan bersama,” ungkap Iskandar.
Bagi masyarakat Aceh Timur, pengalaman selama enam bulan terakhir membawa kesadaran baru tentang pentingnya kesiapan menghadapi situasi yang tidak terduga. Akses terhadap air bersih yang aman dan berkelanjutan kini dipahami sebagai kebutuhan pokok yang harus dijaga ketersediaannya — tidak hanya pada saat bencana, melainkan sepanjang tahun.
“Apalagi sekarang mulai masuk musim kemarau,” ujar Wahyuni.
Dengan kondisi sebagian sumber air yang masih dalam tahap pemulihan, kebutuhan akan akses air bersih yang andal menjadi perhatian bersama. Pengalaman pascabanjir mengajarkan bahwa kesiapsiagaan dan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan yang akan datang.
“Kondisi pasca banjir memang berat. Banyak warga yang kesulitan. Karena itu, kami sangat bersyukur mendapatkan bantuan saat kondisi sulit itu,” tutup Wahyuni.
Editor: Redaksi











