BANDA ACEH – Turnamen AMLA CUP 2026 dipastikan akan menjadi ajang yang menarik perhatian pecinta sepak bola Aceh. Salah satu tim yang menyatakan kesiapannya untuk ambil bagian adalah Kutaraja Aceh FC yang berada di bawah Manager Darmansyah Putra, ST.
Berbeda dengan sebagian tim yang mengandalkan pemain-pemain berpengalaman, Kutaraja Aceh FC memilih menjadikan turnamen ini sebagai panggung bagi para pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen klub dalam mendukung pembinaan sepak bola usia muda di Aceh.
Dalam menghadapi AMLA CUP 2026, Kutaraja Aceh FC didukung oleh jajaran pelatih dan manajemen yang memiliki pengalaman serta komitmen kuat terhadap pengembangan talenta muda, yakni Coach Ridwan Salam sebagai Direktur Teknik, Kurniawan sebagai Pelatih Kepala, Joni Asrama sebagai Asisten Pelatih Edi Gunawan Pelatih Kiper, serta Dr. Yopi yang bertugas sebagai Analis Tim. Kehadiran mereka diharapkan mampu membangun fondasi permainan yang kuat sekaligus membentuk karakter pemain muda agar siap bersaing di level yang lebih tinggi.
Menurut Darmansyah Putra, ST, sepak bola Aceh membutuhkan lebih banyak ruang kompetisi yang mampu melahirkan pemain-pemain potensial. Tanpa pembinaan yang berkelanjutan, akan sulit bagi Aceh untuk kembali melahirkan talenta yang mampu bersaing di tingkat nasional.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk merasakan atmosfer kompetisi yang sesungguhnya. Mereka adalah masa depan sepak bola Aceh. Jika tidak diberikan ruang sejak sekarang, maka akan sulit bagi mereka berkembang,” ujarnya.
Ia menilai bahwa selama ini banyak pemain muda Aceh memiliki kemampuan yang baik, namun minim kesempatan untuk tampil dan berkembang secara berjenjang. Karena itu, AMLA CUP 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi sarana pembinaan dan pencarian bakat.
Darmansyah juga mengajak seluruh pihak, mulai dari klub, akademi sepak bola, pemerintah, hingga sponsor, untuk bersama-sama membangun ekosistem sepak bola Aceh yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Sepak bola Aceh tidak boleh hanya hidup saat ada turnamen. Kita harus memikirkan bagaimana anak-anak muda memiliki wadah latihan, kompetisi, dan pembinaan yang berkesinambungan. Dari lapangan-lapangan kampung inilah nantinya lahir pemain-pemain yang membanggakan Aceh dan Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah daerah dalam sepak bola tidak hanya diukur dari jumlah trofi yang diraih, tetapi juga dari seberapa banyak pemain muda yang berhasil dibina dan diberikan kesempatan untuk berkembang. Karena itu, Kutaraja Aceh FC ingin menjadi bagian dari gerakan pembinaan yang berkelanjutan bagi generasi muda Aceh.
Keikutsertaan Kutaraja Aceh FC dengan komposisi pemain muda menjadi bukti bahwa regenerasi tetap berjalan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sepak bola daerah, semangat untuk membina dan memberi kesempatan kepada generasi muda masih terus menyala.
AMLA CUP 2026 pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar turnamen. Ajang ini menjadi simbol harapan bagi kebangkitan sepak bola Aceh, tempat lahirnya mimpi-mimpi baru dari anak-anak muda yang ingin mengukir prestasi di lapangan hijau.
“Karena sepak bola bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara hari ini, tetapi tentang siapa yang sedang dipersiapkan untuk menjadi kebanggaan Aceh di masa depan.”
Editor: Redaksi












