Home / Pemerintah

Senin, 22 Juni 2026 - 09:10 WIB

Kepala BNPB tegaskan komitmen pemulihan pascabencana Sumatera, huntap dipercepat

Fardila Zahra

Banda Aceh – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Letjen TNI, Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) dalam proses pemulihan pascabencana sumatera.

“Pemerintah komit mempercepat penyediaan huntara dan huntap, serta berbagai program pendukung lainnya bagi masyarakat terdampak,” kata Suharyanto dalam keterangannya, di Aceh Tamiang, Senin.

Pernyataan itu disampaikan Letjen Suharyanto saat melakukan kunjungan kerja meninjau langsung progres pemulihan pascabencana Aceh, sekaligus penyerahan bantuan dana stimulan rumah rusak ringan/sedang tahap III termin 1, di Aceh Tamiang.

Suharyanto menyampaikan, memasuki bulan ketujuh pascabencana Sumatera, BNPB telah menyelesaikan penyediaan huntara di berbagai lokasi dan kini memfokuskan pada pembangunan huntap. Jumlah huntara yang ditargetkan untuk dibangun lebih dari 20.000 unit.

“Kami sudah menyelesaikan 99,9 persen pembangunan huntara. Yang masih dalam progress, menurut data yang kami punya, adalah huntara untuk warga terdampak yang tidak memiliki hak atas tanah dan bangunan atau yang statusnya menyewa,” ujarnya.

Pekerjaan BNPB lainnya adalah, pembangunan huntap mandiri/insitu (dibangun di lokasi asal atau lahan milik warga). Seperti diketahui, ada dua jenis huntap yang dibangun yaitu huntap komunal/terpusat yang pengerjaannya dilakukan oleh Kementerian PUPR/PKP dan huntap mandiri/insitu yang pengerjaannya dilakukan oleh BNPB.

Saat ini, BNPB telah mulai membangun 900-an rumah. Dari total pembangunan huntap yang ditargetkan sebanyak 39.000 unit baik yang mandiri maupun komunal.

Dalam kunjungannya ini, Suharyanto mengatakan bahwa seluruh provinsi yang terkena dampak bencana di Sumatera sudah tidak ada lagi yang berstatus tanggap darurat, hanya beberapa kabupaten/kota yang masih menetapkan status transisi darurat ke pemulihan.

Komitmen itu, kata dia, tercermin dari persetujuan pemerintah pusat bersama DPR untuk mengucurkan dana pemulihan pasca bencana Sumatera sebesar Rp100,1 Triliun untuk periode tiga tahun (2026-2028).

Dana tersebut dialokasikan untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencakup perbaikan infrastruktur, rehabilitasi rumah rusak, pemulihan ekonomi masyarakat, serta penguatan mitigasi dan pemulihan lingkungan.

Dana yang baru disetujui ini akan dikelola oleh kementerian/lembaga terkait. “Artinya kementerian yang selama ini menunggu, sekarang sudah mulai bisa bekerja lagi,” katanya.

Ia menyampaikan, anggaran sebesar Rp100,1 triliun ini tidak termasuk dalam anggaran kebencanaan yang dikelola oleh BNPB melalui skema Dana Siap Pakai (DSP).

Sejak awal masa tanggap darurat hingga saat ini, kata dia, BNPB dibekali dana siap pakai sekitar Rp4 triliun yang digunakan untuk segala kebutuhan penanganan bencana di Tanah Air.

Untuk penanganan bencana Sumatera, DSP dialokasikan untuk berbagai pekerjaan yang menjadi tanggung jawab BNPB, diantaranya penyediaan logistik, pembangunan huntara, pembangunan huntap mandiri, dana tunggu hunian, dana stimulan rumah rusak ringan/sedang, dan lainnya.

“Kami memastikan dana tersebut digunakan secara tepat sasaran, transparan, dan akuntabel melalui pendampingan teknis kepada pemerintah daerah, pengawasan distribusi bantuan, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga,” kata Suharyanto.

Suharyanto menegaskan, BNPB terus menjalankan program pendukung lainnya untuk menunjukkan komitmen berkelanjutan pemerintah di Sumatera, khususnya Aceh. Program dana stimulan perbaikan rumah rusak ringan/sedang telah disalurkan sebanyak 3 tahap di Aceh Tamiang dan 2 tahap di Aceh Utara.

“Dana stimulan ini akan terus diberikan sesuai dengan permintaan dari kepala daerah, jika nanti ada permintaan dan terverifikasi kami akan berikan lagi dana ini,” ujarnya.

Sementara itu, untuk dana tunggu hunian (DTH) Rp1,8 juta per tiga bulan juga telah diberikan kepada ribuan kepala keluarga dan berlanjut hingga enam bulan. Berbagai program logistik, pemulihan ekonomi, dan pendukung lainnya terus berjalan. Maka dari itu, BNPB menegaskan pemerintah tidak mengabaikan warga terdampak bencana.

“Kita memang banyak kekurangan, kelemahan. Saya sebagai Kepala BNPB mengakui itu. Tetapi kami punya tekad memperbaiki kekurangan dan kelemahan itu dan berusaha membantu masyarakat,” demikian Letjen Suharyanto.

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Pemerintah

Warga Banda Aceh Tumpah Ruah Saksikan Dakwah Akbar Syeikh Reza Abdul-Jabbar & Ustadzah Peggy Melati Sukma

Pemerintah

Pj Bupati Aceh Besar Terima 80 Sertifikat Elektronik dari BPN

Pemerintah

Penjabat Gubernur Safrizal Luncurkan Program Penghapusan Pasung untuk ODGJ di Aceh

Pemerintah

Pj Bupati Aceh Besar Tinjau Unit Damkar di Sibreh

Parlementarial

Magnet Politik Perekat Rakyat dan Harapan Baru Menuju Kursi Ketua DPRA

Pemerintah

Dukung Tugas Polri dalam Ketahanan Pangan, Kapolresta Banda Aceh Lakukan Panen Tanaman Bergizi

Pemerintah

Pj Gubernur Safrizal: Untuk Membuka Lapangan Kerja, Aceh Beri Karpet Merah untuk Investasi

Pemerintah

Rapim Polda Aceh Tahun 2025, Personel Didorong untuk Berinovasi dan Berikan Pelayanan Terbaik kepada Masyarakat