Home / Advertorial

Selasa, 3 November 2026 - 14:20 WIB

Museum Lhokseumawe Didorong Hadirkan Pengalaman Edukasi yang Menarik

REDAKSI

Wali Kota Lhokseumawe bersama jajaran pemerintah daerah dan para tamu undangan berfoto bersama usai rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-8 Museum Kota Lhokseumawe, Senin (2/11/2026). Foto: Dok. Istimewa

Wali Kota Lhokseumawe bersama jajaran pemerintah daerah dan para tamu undangan berfoto bersama usai rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-8 Museum Kota Lhokseumawe, Senin (2/11/2026). Foto: Dok. Istimewa

Lhokseumawe – Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., menginginkan Museum Kota Lhokseumawe menjadi ruang edukasi sejarah dan budaya yang aktif, menarik, serta ramah bagi pengunjung. Pengelola museum juga diminta lebih inovatif dalam memperkenalkan koleksi agar masyarakat tertarik datang dan kembali berkunjung.

Harapan tersebut disampaikan melalui Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, A. Haris, S.Sos., M.Si., saat membuka pameran temporer koleksi Museum Kota Lhokseumawe dalam rangka memperingati HUT ke-8 museum, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Haris, museum tidak seharusnya hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Keberadaannya perlu dihidupkan melalui pelayanan yang komunikatif, penyajian koleksi yang menarik, serta kegiatan edukasi yang melibatkan masyarakat.

Ia mengingatkan, pengelola harus mampu menciptakan pengalaman berkunjung yang menyenangkan. Sikap petugas yang ramah dan informasi koleksi yang mudah dipahami menjadi bagian penting agar pengunjung merasa nyaman dan tertarik mengajak orang lain datang.

Salah satu cara yang dapat dilakukan, kata Haris, ialah memanfaatkan teknologi video untuk memperkenalkan benda-benda koleksi museum. Dengan begitu, pengunjung dapat mengetahui nama, sejarah, dan informasi mengenai benda yang mereka lihat.

Ia mencontohkan penyajian informasi di Museum Aceh dan Museum Tsunami Aceh yang dapat menjadi bahan pembelajaran dalam mengembangkan pengalaman kunjungan di Museum Kota Lhokseumawe.

Haris juga meminta Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe lebih proaktif menyelenggarakan kegiatan yang mendekatkan masyarakat dengan museum. Anak-anak dan pelajar perlu diberi ruang untuk belajar, mengenal, sekaligus mempraktikkan seni budaya daerah.

“Pertahankan budaya kita. Anak-anak harus diberi ruang datang ke museum. Di tempat ini mereka bisa belajar, mengetahui, dan mempraktikkan tarian yang sudah dipelajari,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan penyelenggaraan pameran temporer dan Festival Seni dan Budaya yang berlangsung selama tiga hari, 29–31 Oktober 2026. Kegiatan yang dilaksanakan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe itu mengusung tema “Menghidupkan Sejarah dan Melestarikan Budaya Lokal”.

Pameran dibuka secara resmi oleh Sekda A. Haris, didampingi Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Fauzi, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Dinas Sri Aryati, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Bidang Kebudayaan Abdul Fathah, S.Ag.

Selain menampilkan koleksi museum, festival tersebut menghadirkan berbagai perlombaan dan pertunjukan seni. Partisipasi sekolah dari empat kecamatan di Kota Lhokseumawe mendapat sambutan positif. Penyelenggara menilai keterlibatan peserta tahun ini lebih meriah dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

Sejumlah cabang lomba yang digelar meliputi Hikayat, Rapai, Canang, Baca Puisi, dan Vokal Solo. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengenal kesenian tradisional dan ekspresi seni lainnya.

Rangkaian festival ditutup pada Sabtu, 31 Oktober 2026, oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Fauzi. Penutupan dirangkaikan dengan pembagian hadiah dan penghargaan kepada para pemenang.

Dalam sambutannya, Fauzi menyampaikan apresiasi kepada panitia, pihak keamanan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang telah membantu kelancaran kegiatan selama tiga hari.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Namun, menurut Fauzi, upaya menjaga seni dan budaya tidak cukup hanya melalui perlombaan yang diselenggarakan di tingkat dinas.

Sekolah juga diharapkan mengambil peran dengan mengadakan kegiatan seni dan budaya di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, pengenalan dan pelestarian budaya lokal dapat berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya ketika ada perayaan atau festival.

“Lomba seni dan budaya ini penting untuk menjaga nilai-nilai seni budaya di Lhokseumawe. Kami berharap kegiatan seperti ini juga dilaksanakan di setiap sekolah,” katanya.

Melalui peringatan HUT ke-8 ini, Museum Kota Lhokseumawe diharapkan berkembang menjadi ruang publik yang tidak hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar dan apresiasi budaya bagi masyarakat.

Tantangannya adalah menjaga agar museum tetap aktif setelah kegiatan perayaan berakhir. Inovasi penyajian koleksi, keramahan pelayanan, serta agenda edukasi yang melibatkan sekolah dan komunitas menjadi bagian penting untuk membuat museum semakin dekat dengan masyarakat. (Adv)

Share :

Baca Juga

Advertorial

PBB Gelar Pameran Foto di Museum Tsunami

Advertorial

Inflasi Banda Aceh Melandai, Sekda Jalaluddin Perkuat Strategi Pengendalian Harga Pangan

Advertorial

Penumpang Harus Tetap Cetak Boarding Pass Pesawat, Ini Alasannya..!

Advertorial

Festival Literasi Lhokseumawe Hadirkan Ruang Belajar Sambil Bermain

Advertorial

Aceh Ramadhan Festival 2025, Hadirkan Tradisi, Ekonomi Syariah dan Wisata Islami

Advertorial

Jangan Bicara Tentang Aceh Jika Tak Punya Ilmu

Advertorial

Museum Tsunami Aceh, Napak Tilas Sejarah dan Kebangkitan dari Tragedi