Oleh:
Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si.
Akademisi dan Guru pada Sekolah Pascasarjana USK, Aceh Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh.
BESOK, Selasa 30/6/2026, ribuan calon mahasiswa akan menyaksikan sebuah pengumuman yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik di layar gawai. Namun, dampaknya akan dikenang bertahun-tahun oleh banyak keluarga.
Ada yang akan bersorak penuh syukur. Ada yang akan terdiam menahan air mata.
Tetapi sesungguhnya, yang sedang diuji hari ini bukan hanya calon mahasiswa. Yang sedang diadili adalah keadilan sistem pendidikan Indonesia.
Seleksi Mandiri bukan sekadar proses memilih siapa yang diterima. Ia juga menjadi cermin tentang seberapa besar negara mampu memenuhi hak konstitusional rakyat untuk memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu dan berkeadilan.
Calon mahasiswa diuji kecerdasan, ketekunan, dan mental juangnya.
Orang tua diuji kebijaksanaan serta kemampuannya menerima kenyataan bahwa cinta kepada anak tidak boleh bergantung pada nama kampus tempat mereka diterima.
Perguruan tinggi diuji integritasnya untuk tetap menjunjung mutu, bukan semata-mata logika pasar.
Dan pemerintah diuji keberpihakannya kepada masa depan generasi muda, bukan sekadar keberhasilan menyelenggarakan seleksi.
Kita harus berani mengakui kenyataan. Masalah terbesar pendidikan tinggi Indonesia bukan karena terlalu banyak anak yang gagal, melainkan karena terlalu sedikit ruang berkualitas yang disediakan bagi mereka yang layak berhasil.
Setiap tahun lahir ribuan lulusan SMA yang cerdas, berprestasi, dan penuh mimpi. Namun kapasitas perguruan tinggi negeri yang terbatas membuat banyak di antara mereka tersingkir, bukan karena tidak mampu, melainkan karena sistem belum mampu menampung potensi mereka.
Lebih menyedihkan lagi apabila kesempatan memperoleh pendidikan semakin ditentukan oleh kemampuan ekonomi.
Apabila pendidikan berubah menjadi komoditas yang hanya mudah diakses oleh mereka yang mampu membayar, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya masa depan seorang anak, tetapi masa depan keadilan sosial bangsa.
Kepada adik-adik yang dinyatakan lulus, selamat. Bersyukurlah, tetapi jangan pernah merasa lebih hebat daripada mereka yang belum berhasil. Kelulusan bukan mahkota kesombongan, melainkan amanah untuk terus belajar, menjaga integritas, serta mengabdikan ilmu bagi masyarakat.
Kepada adik-adik yang belum memperoleh kesempatan tahun ini, jangan pernah menganggap diri gagal. Hari ini Anda mungkin kalah dalam seleksi, tetapi bukan kalah dalam kehidupan.
Banyak pemimpin besar, ilmuwan, pengusaha, profesional, dan tokoh bangsa justru lahir dari jalan yang tidak pernah mereka rencanakan.
Jangan biarkan satu pengumuman membunuh cita-cita yang telah Anda bangun selama bertahun-tahun.
Ingatlah, hasil seleksi hanyalah keputusan sebuah sistem, bukan keputusan Tuhan atas masa depan Anda.
Masuk PTN hanyalah salah satu jalan menuju sukses, bukan satu-satunya jalan. Yang menentukan masa depan bukan sekadar almamater, melainkan karakter, kerja keras, integritas, kemampuan beradaptasi, serta kemauan belajar sepanjang hayat.
Kepada para orang tua, peluklah anak-anak Anda, baik yang berhasil maupun yang belum. Mereka tidak membutuhkan perbandingan, melainkan keyakinan bahwa keluarga tetap menjadi tempat pulang yang penuh kasih sayang.
Dan kepada pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan, jangan hanya berbangga dengan ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi.
Banggalah apabila semakin banyak anak bangsa memperoleh kesempatan belajar tanpa dibatasi oleh ruang, biaya, maupun ketimpangan.
Bangsa besar bukan bangsa yang paling sulit memasuki kampusnya, tetapi bangsa yang mampu membuka pintu pendidikan selebar-lebarnya bagi setiap anak yang memiliki kemauan untuk belajar.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya siapa yang lulus Seleksi Mandiri tahun 2026.
Sejarah akan bertanya, apakah bangsa ini telah berlaku adil kepada generasi mudanya, atau justru membiarkan mimpi-mimpi terbaik mereka gugur di depan gerbang pendidikan.
Selamat kepada yang berhasil. Tetap rendah hati. Kepada yang belum beruntung, tetaplah berdiri. Mimpi Anda belum berakhir. Jalan menuju masa depan masih terbuka, selama Anda tidak menyerah.
Sebab yang paling berbahaya bukanlah gagal dalam seleksi, melainkan gagal menjaga semangat untuk terus belajar dan berjuang.
Editor: Redaksi












